Tugas Perekonomian Indonesia 2
TUGAS
PEREKONOMIAN INDONESIA
Dosen
Pembimbing : Maulana
Syarif Hidayatullah
ANGGOTA
KELOMPOK
Kelas:
1EB04
Galuh
Sekar Kinanti
(22217484)
Sachio
Dwinanda (25217432)
Sabrina
(25217430)
FAKULTAS
EKONOMI
JURUSAN
AKUNTANSI
UNIVERSITAS
GUNADARMA 2018
DAFTAR
ISI
BAB
I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
1.2 Rumusan
Masalah
BAB
II PEMBAHASAN
2.1 2.1 Pengertian Industrialisasi
2.2 2.2 Konsep dan Tujuan
Industrialisasi........................................................................
2.3 2.3 Faktor-faktor Pendorong Industrialisasi
2.4
Perkembangan Sektor Industri Manufaktur
Nasional...........................................
2.5
Permasalahan Industrialisasi
................................................................................
2.6
Strategi Pembangunan Sektor Industri
.................................................................
2.7
Revolusi Industri Di
Indonesia..............................................................................
BAB
III PENUTUP
3.1
Kesimpulan
..........................................................................................................
3 3.2 Saran
BAB
I
1.1
Latar Belakang
Revolusi
biasanya diartikan sebagai suatu perubahan yang terjadi secara cepat,
perombakan, pembaharuan yang radikal, mengganti tatanan lama menjadi
tatanan baru dari kehidupan masyarakat. Namun revolusi lebih sering
diartikan orang sebagai suatu pemberontakan. Revolusi biasanya
didahului oleh adanya evolusi melalui proses yang cukup matang.
Meskipun antara revolusi dan evolusi memiliki pengertian yang berbeda
namun antara keduanya sulit dipisahkan.
Revolusi
sering juga dilukiskan sebagai suatu perubahan mendasar yang dapat
berakibat mempengaruhi pola pikir masyarakat atau rakyat, kehidupan,
dan cara-cara menata pemerintahan. Revolusi industri memicu tibulnya
berbagai peristiwa yang menjadikan manusia mengerti arti human nature
dan lingkungan masyarakat.
Terjadi
berbagai perubahan dalam industri barang-barang dan dalam perdagangan
selama tahun 1700 yang mengantarkan pada peristiwa revolusi. Revolusi
industri menghasilkan cara-cara menggunakan metode-metode produksi
dan pola-pola baru dalam kehidupan ekonomi. Pada revulusi industri,
perubahan tidak hanya terjadi pada aspek industri, namun juga
mengubah kehidupan masyarakat di berbagai aspeknya. Revolusi industri
diwarnai oleh berbagai perubahan. Perubahan cara kerja yang radikal
dari penggunaan tenaga manusia menjadi cara kerja dengan tenaga mesin
yang bekerja secara mekanis. Dengan ini dimulailah zaman mesin
yang memberi sumbangan positif maupun negatif bagi masyarakat.
1.2
Rumusan Masalah
- Apa Pengertian Industrialisasi?
- Apa Konsep dan Tujuan Industrialisasi?
- Apa saja Faktor-faktor Pendorong Industrialisasi?
- Apa Perkembangan Sektor Industri Manufaktur Nasional?
- Apa Permasalahan Industrialisasi?
- Bagaimana Strategi Pembangunan Sektor Industri?
- Bagaimana Revolusi Industri Di Indonesia?
- Bagaimana Revolusi Industri 4.0?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Industri
Industri adalah suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan mentah atau barang setengah jadi menjadi barang jadi barang jadi yang memiliki nilai tambah untuk mendapatkan keuntungan. Usaha perakitan atau assembling dan juga reparasi adalah bagian dari industri. Hasil industri tidak hanya berupa barang, tetapi juga dalam bentuk jasa
Pengertian industri
bermacam-macam. Menurut UU
No. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian, industri adalah kegiatan
ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi,
dan/atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi
untuk penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan
perekayasaan industri. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, industri adalah kegiatan
memproses atau mengolah barang dengan menggunakan sarana dan
peralatan, misal mesin. Menurut
Badan Pusat Statistik, industri adalah sebuah kesatuan unit
usaha yang menjalankan kegiatan ekonomi
dengan tujuan untuk menghasilkan barang atau jasa yang berdomisili
pada sebuah tempat atau lokasi tertentu dan memiliki catatan
administrasi sendiri.
Sedangkan pengertian
industri menurut beberapa ahli juga bermacam-macam. Menurut
Teguh S. Pambudi, industri adalah sekelompok perusahaan yang
bisa menghasilkan sebuah produk yang dapat saling menggantikan antara
yang satu dengan yang lainnya. Menurut
Hinsa Sahaan, industri adalah bagian dari sebuah proses yang mengolah
barang mentah menjadi barang jadi sehingga menjadi sebuah barang baru
yang memiliki nilai lebih bagi kebutuhan masyarakat. Menurut
Wirasti dan Dini Natalia, industri diartikan sebagai pengolahan
barang setengah jadi menjadi barang yang telah jadi sehingga dapat
mendatangkan sebuah keuntungan bagi pelaksanaannya.
2.2
Konsep dan Tujuan Industrialisasi
Dalam sejarah
pembangunan eknomi, konsep industrialisasi berawal dari revolusi
pertamam pada pertengahan abad ke-18 yang terjadi di Inggris, dengan
penemuan metode baru untuk pemintalan, penenunan kapas, serta
peningkatan faktor produksi yang digunakan.
Industrialisasi
suatu proses interaksi antara perkembangan teknologi, inovasi,
spesialisasi dan perdagangan dunia untuk meningkatkan pendapatan
masyarakat dengan mendorong perubahan struktur ekonomi.
Selain itu,
industrialisasi merupakan salah satu strategi jangka panjang untuk
menjamin pertumbuhan ekonomi. Hanya beberapa Negara dengan penduduk
sedikit dan kekayaan alam melimpah, seperti Kuwait dan Libya (negara
penghasil minyak) ingin mencapai pendapatan yang tinggi tanpa
industrialisasi.
Setelah perang dunia
II juga banyak bermunculan perkemebangan teknologi yang baru,
misalnya produksi dengan skala besar dengan konsep assembling,
listrik, penemuan bahan-bahan sintetik, kendaraan bermotor, revolusi
teknologi komunikasi, sampai pada penggunaan robot. Semua perubahan
yang terjadi ini juga ikut memacu proses industrialisasi dunia karena
perkembangan ini mengubah pola produksi industri dan meningkatkan
kapasitas (volume) perdagangan dunia.
2.3
Faktor – Faktor Pendorong Industrialisasi
Faktor Pendorong Industrialisasi
- Kegunaan alam yang melimpah
- Jenis lingungan alam yang tersebar di Indonesia sekarang dapat menimbulkan interaksi antara daerah
- Letak Indonesia yang strategis untuk pemasaran produk industri
- Jumlah penduduk yang cukup besar
- Adanya penurunan modal asing di Indonesia
- Jalur pemrintahan lebih banyak, sekarang lebih efesien untuk transportasi hasil industri
Aneka Industri
Aneka
industri dibentuk untuk menghasilkan bermacam-macam barang untuk
keperluan sehari-hari. Aneka industri dapat dibagi lagi dalam
beberapa industri lagi diantaranya
:
Industri logam dasar
- Kelompok industri yang termasuk dalam logam dasar antara lain:
- Industri peralatan listrik
- Industri motor mesin
- Industri pelengkapan pabrik
- Industri logam dasar menghasilkan besi beton, besi baja, dan anek produk alumunium.
Industri kecil
Industri kecil mempunyai sifat:
- Pemasaran terbatas
- Modal relatif kecil
- Jumlah tenaga kecil
- Peralatan sangat sederhana
Industri kimia dasar
Industri ini merupakan industri yang mengolah bahan mentah menjadi bahan baku atau bahan jadi menggunakan modal kerja yang besar, keahlian dan terknologi maju kimia dasar terdiri dari:
Industri semen
Industri kertas
Industri ban
Industri pariwisata atau fasilitatif.
2.4
Perkembangan Sektor Industri Manufaktur Nasional
Perkembangan
industry manufaktur disetiap Negara juga dapat digunakan untuk
melihat perkembangan industry Negara itu secara nasional, sejak
krisis ekonomi dunia pada tahun 1998 dan perontokan perekonomian
nasional, perkembangan industry di Indonesia secara nasional belum
memperlihatkan perkembangan yang memuaskan.bahkan perkembangan
industri nasional, khususnya industry manufaktur ,lebih sering
merosot perkembangannya dibandingkan dengan grafik peningkatannya.
Sebuah
hasil riset yang dilakukan pada tahun 2006, oleh sebuah lembaga
internasional terhadap prospek industry manufaktur di berbagai Negara
melihatkan hadil yang cukup memprihatinkan.dari 60 negara yang
menjadi obyek penelitian, posisi industry manufaktur Indonesia berada
diposisi terbawah bersama beberapa Negara asia seperti Vietnam,riset
yang meneliti aspek daya saing produk industry manufaktur Indonesia
dipasar global, menempatkan pada posisi terendah.
Perusahaan
manufaktur merupakan penopang utama perkembangan industri di sebuah
negara. Perkembangan industri manufaktur di sebuah negara
juga dapat digunakan untuk melihat perkembangan industri secara
nasional di negara itu. Perkembangan ini dapat dilihat baik dari
aspek kualitas produk yang dihasilkannya maupun kinerja industri
secara keseluruhan.
Sejak
krisis ekonomi dunia yang terjadi tahun 1998 dan merontokkan berbagai
sendiperekonomian nasional, perkembangan industri di Indonesia
secara nasional belum memperlihatkan perkembangan yang
menggembirakan. Bahkan perkembangan industri nasional, khususnya
industri manufaktur, lebih sering terlihat merosot ketimbang grafik
peningkatannya.
Sebuah
hasil riset yang dilakukan pada tahun 2006 oleh sebuah lembaga
internasional terhadap prospek industri manufaktur di
berbagai negara memperlihatkan hasil yang cukup memprihatinkan. Dari
60 negara yang menjadi obyek penelitian, posisi industri manufaktur
Indonesia berada di posisi terbawah bersama beberapa negara Asia,
seperti Vietnam. Riset yang meneliti aspek daya saing produk industri
manufaktur Indonesia di pasar global, menempatkannya pada posisi yang
sangat rendah.
- Gejala Deindustrialisasi
Perkembangan
industri manufaktur di Indonesia juga dapat dilihat dari
kontribusinya terhadap produk domestik bruto atau PDB. Bahkan pada
akhir tahun 2005 dan awal tahun 2006, banyak pengamat ekonomi yang
mengkhawatirkan terjadinya de-industrialisasi di Indonesia akibat
pertumbuhan sektor industri manufaktur yang terus merosot.
Deindustrialisasi
merupakan gejala menurunnya sektor industri yang ditandai dengan
merosotnya pertumbuhan industri manufaktur yang berlangsung secara
terus menerus. Melorotnya perkembangan sektor industri manufaktur
saat itu mirip dengan gejala yang terjadi menjelang ambruknya
rezim orde baru pada krisis global yang terjadi pada tahun
1998. Selain menurunkan sumbangannya terhadap produk domestik bruto,
merosotnya pertumbuhan industri manufaktur juga menurunkan
kemampuannya dalam penyerapan tenaga kerja.
Data
dari Biro Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa pada
triwulan pertama tahun 2005, pertumbuhan industri manufaktur di
Indonesia sebenarnya masih cukup tinggi, yaitu mencapai 7,1 persen.
Namun memasuki triwulan kedua tahun 2005 perkembangannya terus
merosot. Bahkan pada akhir tahun 2005, perkembangan industri
manufaktur kita hanya mencapai 2,9 persen. Kondisi ini semakin parah
setelah memasuki triwulan pertama tahun 2006 karena pertumbuhannya
hanya sebesar 2,0 persen.
- Problem Pengangguran
Sebagai
sektor industri yang sangat penting, perkembangan industri manufaktur
memang sangat diandalkan. Penurunan pertumbuhan sektor industri ini
dapat menimbulkan efek domino yang sangat meresahkan. Bukan saja akan
menyebabkan PDB menurun namun yang lebih mengkhawatirkan adalah
terjadinya gelombang pengangguran baru. Apalagi problem
pengangguran yang ada saat ini saja masih belum mampu diatasi dengan
baik.
Kita
mestinya bisa belajar banyak dari pengalaman tragedi ekonomi tahun
1998. Selain menyangkut fondasi perekonomian nasional yang mesti
diperkuat, sejumlah ahli juga melihat perlunya membenahi
strategi pembangunan industri di Indonesia. Kalau perlu,
pemerintah bisa melakukan rancang ulang atau redesign menyangkut visi
dan misi pembangunan industri, dari sejak hulu hingga hilir. Paling
tidak agar produk industri kita mampu bersaing di pasar global.
2.5
Permasalahan Industrialisasi
Perekonomian
nasional memiliki berbagai permasalahan dalam kaitannya dengan sektor
industri dan perdagangan:
- Industri nasional selama ini lebih menekankan pada industri berskala luas dan industri teknologi tinggi. Adanya strategi ini mengakibatkan berkembangnya industri yang berbasis impor. Industri-industri tersebut sering terpukul oleh depresiasi mata uang rupiah yang tajam,
- Penyebaran industri belum merata karena masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Industri yang hanya terkonsentrasi pada satu kawasan ini tentulah tidak sejalan dengan kondisi geografis Indonesia yang menyebut dirinya sebagai negara kepulauan.
- Lemahnya kegiatan ekspor Indonesia yang tergantung pada kandungan impor bahan baku yang tinggi, juga masih tingginya tingkat suku bunga pinjaman bank di Indonesia, apalgi belum sepenuhnya Indonesia diterima di pasar internasional.
- Komposisi komoditi ekspor Indonesia pada umumnya bukan merupakan komoditi yang berdaya saing, melainkan karena berkaitan dengan tersedianya sumber daya alam - seperti hasil perikanan, kopi, karet, dan kayu. tersedianya tenaga kerja yang murah – seperti pada industri tekstil, alas kaki, dan barang elektronik
- Komoditi primer yang merupakan andalan ekspor Indonesia pada umumnya dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah yang diperoleh sangat kecil. Misalnya Indonesia mengekspor kayu dalam bentuk gelondongan, yang kemudian diimpor lagi dalam bentuk mebel karena terbatasnya penguasaan desain dan teknologi.
- Masih relatif rendahnya kualitas sumber daya manusia. Hal ini sangat dipengaruhi oleh sistem pendidikan formal dan pola pelaksanaan pelatihan yang cebderung masih bersifat umum dan kurang berorientasi pada perkembangan kebutuhan dunia usaha. Selain itu, rendahnya kualitas sumber daya manusia akibat dari pola penyerapan tenaga kerja di masa lalu yang masih mementingkan pada jumlah tenaga manusia yang terserap. ketimbang kualitas tenaga manusianya.
Beberapa ahli
menilai penyebab
utama dari kegagalan Indonesia dalam berindustri adalah karena
industri Indonesia sangat tergantung pada impor sumber-sumber
teknologi dari negara lain, terutama negara-negara yang telah maju
dalam berteknologi dan berindustri.
Ketergantungan
yang tinggi terhadap impor teknologi ini merupakan salah satu faktor
tersembunyi yang menjadi penyebab kegagalan dari berbagai sistem
industri dan sistem ekonomi di Indonesia.
Sistem
industri Indonesia tidak memiliki kemampuan
pertanggungjawaban dan penyesuaian
yang mandiri. Karenanya sangat lemah dalam mengantisipasi perubahan
dan tak mampu melakukan tindakan-tindakan pencegahan
untuk
menghadapi terjadinya perubahan tersebut. Tuntutan perubahan pasar
dan persaingan antar industri secara global tidak hanya mencakup
perubahan di dalam corak, sifat, kualitas, dan harga dari komoditas
yang diperdagangkan, tetapi juga tuntutan lain yang muncul karena
berkembangnya idealisme masyarakat dunia terhadap hak azasi manusia,
pelestarian lingkungan, liberalisasi perdagangan, dan sebagainya.
Gerak ekonomi Indonesia sangat tergantung pada arus modal asing yang
masuk atau keluar Indonesia serta besarnya cadangan devisa yang
terhimpun melalui perdagangan dan hutang luar negeri.
Kebijakan yang telah
secara berkelanjutan ditempuh tersebut, teramati tidak mampu membawa
ekonomi Indonesia menjadi makin mandiri, bahkan menjadi
tergantung pada:
- Ketergantungan kepada pendapatan ekspor,
- Ketergantungan pada pinjaman luar negeri,
- Ketergantungan kepada adanya investasi asing,
- Ketergantungan akan impor teknologi dari negara-negara industri.
Kelemahan-kelemahan structural di antaranya:
- Basis ekspor dan pasarnya yang sempit
- Ketergantungan impor yang sangat tinggi
- Tidak adanya industri berteknologi menengah
- Konsentrasi regional
Kelemahan-kelemahan
organisasi, di antaranya:
- Industri skala kecil dan menengah masih underdeveloped
- Konsentrasi pasar
- Lemahnya kapasitas untuk menyerap dan mengembangkan teknologi
- Lemahnya SDM
2.6 Strategi
Pembangunan Sektor Industri
Tujuan
pembangunan industri nasional baik jangka menengah maupun jangka
panjang ditujukan untuk mengatasipermasalahan dan kelemahan baik di
sektor industri maupun untuk mengatasi permasalahan secara nasional,
yaitu:
- Meningkatkan penyerapan tenaga kerja industri;
- Meningkatkan ekspor Indonesia dan pember-dayaan pasar dalam negeri;
- Memberikan sumbangan pertumbuhan yang berarti bagi perekonomian;
- Mendukung perkembangan sector infrastruktur;
- Meningkatkan kemampuan teknologi;
- Meningkatkan pendalaman struktur industri dan diversifikasi produk
- Meningkatkan penyebaran industri.
Bertitik
tolak dari hal-hal tersebut dan untuk menjawab tantangan di atas maka
kebijakan dalam pembangunan industrimanufaktur diarahkan untuk
menjawab tantangan globalisasi ekonomi dunia serta mampu
mengantisipasi.perkembangan perubahan lingkungan yang sangat cepat.
Persaingan internasional merupakan suatu perspektif baru
bagi
semua negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga fokus dari
strategi pembangunan industri di masa depan adalah membangun daya
saing industri manufaktur yang berkelanjutan di pasar internasional.
Untuk itu, strategi pembangunan industri manufaktur ke depan dengan
memperhatikan kecenderungan pemikiran terbaru yang berkembang saat
ini, adalah melalui pendekatan klaster dalam rangka membangun daya
saing industri yang kolektif.
Industri
manufaktur masa depan adalah industri-industri yang mempunyai daya
saing tinggi, yang didasarkan tidak hanya kepada besarnya potensi
Indonesia (comparative advantage), seperti luas bentang wilayah,
besarnya jumlah penduduk serta ketersediaan sumber daya alam, tetapi
juga berdasarkan kemampuan atau daya kreasi dan keterampilan serta
profesionalisme sumber daya manusia Indonesia (competitive
advantage).
Bangun
susun sektor industri yang diharapkan harus mampu menjadi motor
penggerak utama perekonomian nasional dan menjadi tulang punggung
ketahanan perekonomian nasional di masa yang akan datang. Sektor
industri prioritas tersebut dipilih berdasarkan keterkaitan dan
kedalaman struktur yang kuat serta memiliki daya saing yang
berkelanjutan serta tangguh di pasar internasional.
Pembangunan
industri tersebut diarahkan pada penguatan daya saing, pendalaman
rantai pengolahan di dalam negeri serta dengan mendorong tumbuhnya
pola jejaring (networking) industri dalam format klaster yang sesuai
baik pada kelompok industri prioritas masa depan, yaitu: industri
agro, industri alat angkut, industri telematika, maupun penguatan
basis industri manufaktur, serta industri kecil-menengah tertentu.
Dengan
memperhatikan permasalahan yang bersifat nasional baik di tingkat
pusat maupun daerah dalam rangka peningkatan daya saing, maka
pembangunan industri nasional yang sinergi dengan pembangunan daerah
diarahkan melalui dua pendekatan. Pertama, pendekatan top-down yaitu
pembangunan industri yang direncanakan (by design) dengan
memperhatikan prioritas yang ditentukan secara nasional dan diikuti
oleh partisipasi daerah. Kedua, pendekatan bottom-up yaitu melalui
penetapan kompetensi inti yang merupakan keunggulan daerah sehingga
memiliki daya saing. Dalam pendekatan ini Departemen Perindustrian
akan berpartisipasi secara aktif dalam membangun dan mengembangkan
kompetensi inti daerah tersebut. Hal ini sekaligus merupakan upaya
meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah, yang pada gilirannya
dapat mengurangi tingkat kemiskinan dan pengangguran.
Startegi
pelaksanaan industrialisasi:
- Strategi substitusi impor (Inward Looking).
Bertujuan
mengembangkan industri berorientasi domestic yang dapat menggantikan
produk impor. Negara yang menggunakan strategi ini adalah Korea &
Taiwan.
Pertimbangan
menggunakan strategi ini:
- Sumber daya alam & Faktor produksi cukuo tersedia
- Potensi permintaan dalam negeri memadai
- Sebagai pendorong perkembangan industri manufaktur dalam negeri
- Kesempatan kerja menjadi luas
- Pengurangan ketergantungan impor, shg defisit berkurang
- Strategi promosi ekspor (Outward Looking)
Beorientasi
ke pasar internasional dalam usaha pengembangan industri dalam
negeri yang memiliki keunggulan bersaing.
Rekomendasi
agar strategi ini dapat berhasil :
- Pasar harus menciptakan sinyal harga yang benar yang merefleksikan kelangkaan barang ybs baik pasar input maupun output
- Tingkat proteksi impor harus rendah
- Nilai tukar harus realistis
- Ada insentif untuk peningkatan ekspor
2.7
Revolusi Industri Di Indonesia
Revolusi
Industri sendiri sampai ke Indonesia sekitar abad ke-19 melalui para
penjelajah Inggris dan Belanda yang berlayar dan bertujuan untuk
mencari rempah-rempah di Indonesia pada era Imperialisme modern dan
sekaligus menerapkan Industrialisasi di
Indonesia. Revolusi ini tidak mendapat penolakan dan perlawanan
dari rakyat Indonesia karena pada saat itu Indonesia masih di bawah
kekuatan kolonial, akibatnya masyarakat dipaksa untuk menerima sistem
perubahan besar ini. Dan pada saat pemerintahan kolonial tersebut,
berbagai macam sistem diterapkan oleh pemerintah dan beberapa kaum
majikan, diantaranya ada culture
stelsel,
politik pintu terbuka, politik etis dan sistem land
rent.
Pada
awal abad ke-18 dan ke-19, Indonesia yang saat itu masih dalam
pengaruh kekuasaan bangsa asing yaitu Belanda dan Inggris membawa
dampak dan perubahan yang cukup besar dalam kehidupan sosial dan
ekonomi masyarakat Indonesia, antara lain :
- Indonesia menjadi daerah eksploitasi karena sumber daya alamnya yang bisa dimanfaatkan dan diperlukan sebagai bahan baku industry bangsa Barat.
- Masuknya para pemodal asing yang mendirikan pabrik-pabrik besar, seperti pabrik gula dan pabrik kopi.
- Mulai adanya sistem pembagian kerja dengan berdirinya pabrik-pabrik yang ada.
- Mulai diadakan pembangunan jalur darat secara besar-besaran oleh pemerintah kolonial di Pulau Jawa untuk melancarkan mobilitas dan kegiatan perdagangan, terutama di bidang transportasi kereta api.
- Terjadi urbanisasi besar-besaran di kota-kota besar di Pulau Jawa terutama Jakarta dan Surabaya untuk mendapatkan pekerjaan di Industri.
- Pemerintah kolonial mengenalkan masyarakat Indonesia dengan teknologi canggih untuk melancarkan produksi barang.
- Perubahan paham Kapitalisme Muda (neo capitalism) yang berkembang menjadi Kapitalisme Modern (modern capitalism).
Namun,
dari dampak positif yang diberikan Revolusi Industri ini kepada
Indonesia juga ada dampak negatifnya, antara lain :
- Upah buruh yang ditentukan oleh majikan tergolong rendah.
- Munculnya pertentangan antara kaum proletar (buruh) dengan kaum borjuis (majikan).
- Kaum buruh menjadi objek pemerasan kaum majikan dengan cara bekerja dengan waktu yang diperpanjang atau dengan waktu hampir satu hari tetapi dibayar dengan upah rendah.
Dengan
adanya dampak-dampak negatif tersebut, pemerintah berusaha mengatur
industri-industri tersebut agar dikelola dan diatur oleh pemerintah
supaya kepentingan-kepentingan buruh dapat terjamin. Keputusan
pemerintah ini juga mendorong munculnya paham sosialisme di
Indonesia.
Pengaruh
Revolusi Industri di bidang Ekonomi pada saat itu ditandai dengan
pembangunan daerah-daerah industri yang dilakukan secara
besar-besaran dan berpengaruh tidak hanya pada kuantitas barang yang
produksi tapi juga pada kualitas barang yang ikut turut serta
mendorong masyarakat dan kaum borjuis untuk
memperbaiki hasil produksi mereka.
Pengaruh
Revolusi ini di bidang politik juga dapat dilihat dari adanya
kesenjangan antara kaum proletar dengan
kaum borjuis yang
menimbulkan kesenjangan sosial, munculnya paham-paham baru yang
menggantikan atau melengkapi paham sebelumnya telah ada, dan
berkembangnya paham Liberalisme yang pada awalnya hanya berkembang di
Inggris ketika berlangsung Revolusi Agraria dan Revolusi Industri
ini.
Dalam
bidang Sosial, Revolusi ini juga berpengaruh bahkan sampai era
Reformasi saat ini. Ini bisa dibuktikan dengan beberapa kejadian yang
setiap tahunnya selalu berulang, yaitu Demo Buruh. Demo Buruh selalu
dituntut oleh kaum buruh karena sejak masa awal pengaruh Revolusi
Industri di Indonesia, kaum buruh sudah menjadi objek pemerasan kaum
majikan dengan cara bekerja dengan waktu lebih tetapi dibayar dengan
upah rendah. Ini menunjukkan jika masyarakat menyikapi Revolusi
Industri saat ini berbeda dengan kaum buruh saat itu yang menganggap
Revolusi Industri sebagai sebuah sistem. Di era saat ini, Revolusi
Industri sudah menjadi penyebab berbagai macam masalah yang dituntut
penyelesaiannya oleh kaum buruh, misalnya saja masih ada konflik
antara penetapan dan pemberian UMR bagi para buruh yang dinilai
kurang sesuai dengan penetapan jam kerja dan tenaga yang mereka
gunakan untuk bekerja, kasus lainnya juga ada
masalah outsourcing atau
sistem kerja kontrak yang juga merugikan para pekerja yang
sewaktu-waktu bisa diberhentikan dari pekerjaannya dan para buruh
juga menuntut agar sistem outsourcing ini
bisa dihapuskan oleh pemerintah, masalah lainnya juga yang paling
banyak menyebabkan masyarakat Indonesia menjadi pengangguran adalah
kurangnya lapangan kerja bagi mereka yang kalah saing dalam hal
kualitas serta rendahnya rasa sadar diri untuk bisa menciptakan
peluang usaha dan bukannya hanya bergantung pada kaum borjuis sebagai
penyedia lapangan kerja. Permasalahan tersebut juga tidak lepas dari
adanya kesenjangan sosial antara kaum protelar dengan kaum borjuis
yang berlangsung sejak awal Revolusi Industri berpengaruh.
Revolusi
Industri yang berkembang pada awal abad ke-19 masih bisa kita rasakan
saat ini, khususnya di bidang teknologi yang semakin maju pesat
dengan adanya penemuan-penemuan baru atau pengembangan dari
sistem/teknologi sebelumnya yang mempengaruhi kehidupan saat ini.
Pesatnya perkembangan IPTEK dan kualitas sumber daya manusia yang
semakin mengejar target juga tidak lepas dari Revolusi Industri.
Berbagai alat transportasi mulai dari jalur darat, laut dan udara
selalu ada perkembangan seperti berkembangnya satu sistem kereta api
yang akan selalu diperbarui seiring dengan bertambahnya pengetahuan
manusia sebagai sumber daya yang memproduksi barang tersebut sebagai
contoh hasil pengembangan teknologi yang telah dirintis pasa masa
revolusi industri. Berbagai macam alat-alat canggih saat ini
merupakan bukti dari kemajuan teknologi yang telah dirintis sejak
Revolusi Industri.
2.8
Revolusi Industri 4.0
Adalah
Prof Klaus Schwab, Ekonom terkenal dunia asal Jerman, pendiri dan
Ketua Eksekutif World Economic Forum (WEF) yang mengenalkan konsep
Revolusi Industri 4.0. Dalam bukunya yang berjudul “The Fourth
Industrial Revolution”, Prof Schawab (2017) menjelaskan revolusi
industri 4.0 telah mengubah hidup dan kerja manusia secara
fundamental. Berbeda dengan revolusi industri sebelumnya, revolusi
industri generasi ke-4 ini memiliki skala, ruang lingkup dan
kompleksitas yang lebih luas. Kemajuan teknologi baru yang
mengintegrasikan dunia fisik, digital dan biologis telah mempengaruhi
semua disiplin ilmu, ekonomi, industri dan pemerintah. Bidang-bidang
yang mengalami terobosoan berkat kemajuan teknologi baru diantaranya:
- Robot kecerdasan buatan (Artificialintelligence Robotic)
- Teknologi nano
- Bioteknologi
- Teknologi komputer kuantum
- Blockchain (seperti bitcoin)
- Teknologi berbasis internet
- Printer 3D.
Revolusi
industri 4.0 merupakan fase keempat dari perjalanan sejarah revolusi
industri yang dimulai pada abad ke-18. Menurut Prof Schwab, dunia
mengalami empat revolusi industri. Revolusi industri 1.0 ditandai
dengan penemuan mesin uap untuk mendukung mesin produksi, kereta api
dan kapal layar. Berbagai peralatan kerja yang semula bergantung pada
tenaga manusia dan hewan kemudian digantikan dengan tenaga mesin uap.
Dampaknya, produksi dapat dilipat gandakan dan didistribusikan ke
berbagai wilayah secara lebih masif. Namun demikian, revolusi
industri ini juga menimbulkan dampak negatif dalam bentuk
pengangguran masal.
Ditemukannya
enerji listrik dan konsep pembagian tenaga kerja untuk menghasilkan
produksi dalam jumlah besar pada awal abad 19 telah menandai lahirnya
revolusi industri 2.0 Enerji listrik mendorong para ilmuwan untuk
menemukan berbagai teknologi lainnya seperti lampu, mesintelegraf,
dan teknologi ban berjalan. Puncaknya, diperoleh efesiensi produksi
hingga 300 persen.
Perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat pada awal abad 20
telah melahirkan teknologi informasi dan proses produksi yang
dikendalikan secara otomatis. Mesin industri tidak lagi dikendalikan
oleh tenaga manusia tetapi menggunakan Programmable
Logic Controller
(PLC) atau sistem otomatisasi berbasis komputer. Dampaknya, biaya
produksi menjadi semakin murah. Teknologi informasi juga semakin maju
diantaranya teknologi kamera yang terintegrasi dengan mobile phone
dan semakin berkembangnya industri kreatif di dunia musik dengan
ditemukannya musik digital.
Revolusi
industri mengalami puncaknya saat ini dengan lahirnya teknologi
digital yang berdampak masif terhadap hidup manusia di seluruh dunia.
Revolusi industri terkini atau generasi keempat mendorong sistem
otomatisasi didalam semua proses aktivitas. Teknologi internet yang
semakin masif tidak hanya menghubungkan jutaan manusia diseluruh
dunia tetapi juga telah menjadi basis bagi transaksi perdagangan dan
transportasi secara online. Munculnya bisnis transportasi online
seperti Gojek, Uber dan Grab menunjukkan integrasi aktivitas manusia
dengan teknologi informasi dan ekonomi menjadi semakin meningkat.
Berkembangnya teknologi autonomous
vehicle
(mobil tanpa supir), drone, aplikasi media sosial, bioteknologi dan
nano teknologi semakin menegaskan bahwa dunia dan kehidupan manusia
telah berubah secara fundamental.
BAB
III
KESIMPULAN
- Industri adalah suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan mentah atau barang setengah jadi menjadi barang jadi barang jadi yang memiliki nilai tambah untuk mendapatkan keuntungan.
- Konsep industrialisasi adalah perubahan sosial dan ekonomi, dimana masyarakat ditransformasikan dari tahap atau keadaan pra industry ketika akumulasi modal per kapita itu rendah.
Tujuan
industrialisasi adalah baik jangka menengah maupun jangka panjang
ditujukan untuk mengatasi permasalahan dan kelemahan baik di sektor
industri maupun untuk mengatasi permasalahan secara nasional.
- Faktor-faktor pendorong industrialisasi adalah Kegunaan alam yang melimpah, Jenis lingungan alam yang tersebar di Indonesia sekarang dapat menimbulkan interaksi antara daerah, Letak Indonesia yang strategis untuk pemasaran produk industri, Jumlah penduduk yang cukup besar, Adanya penurunan modal asing di Indonesia
- Perkembangan industry manufaktur disetiap Negara juga dapat digunakan untuk melihat perkembangan industry Negara itu secara nasional, sejak krisis ekonomi dunia pada tahun 1998 dan perontokan perekonomian nasional, perkembangan industry di Indonesia secara nasional belum memperlihatkan perkembangan yang memuaskan.bahkan perkembangan industri nasional, khususnya industry manufaktur ,lebih sering merosot perkembangannya dibandingkan dengan grafik peningkatannya.
- Permasalahan industialisasi:
- Industri nasional selama ini lebih menekankan pada industri berskala luas dan industri teknologi tinggi. Adanya strategi ini mengakibatkan berkembangnya industri yang berbasis impor. Industri-industri tersebut sering terpukul oleh depresiasi mata uang rupiah yang tajam,
- Penyebaran industri belum merata karena masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Industri yang hanya terkonsentrasi pada satu kawasan ini tentulah tidak sejalan dengan kondisi geografis Indonesia yang menyebut dirinya sebagai negara kepulauan, dll.
- Strategi pelaksanaan industrialisasi:
- Strategi substitusi impor (Inward Looking).
Bertujuan
mengembangkan industri berorientasi domestic yang dapat menggantikan
produk impor. Negara yang menggunakan strategi ini adalah Korea &
Taiwan.
- Strategi promosi ekspor (Outward Looking)
Beorientasi
ke pasar internasional dalam usaha pengembangan industri dalam
negeri yang memiliki keunggulan bersaing.
- Revolusi Industri yang berkembang pada awal abad ke-19 masih bisa kita rasakan saat ini, khususnya di bidang teknologi yang semakin maju pesat dengan adanya penemuan-penemuan baru atau pengembangan dari sistem/teknologi sebelumnya yang mempengaruhi kehidupan saat ini. Pesatnya perkembangan IPTEK dan kualitas sumber daya manusia yang semakin mengejar target juga tidak lepas dari Revolusi Industri. Berbagai alat transportasi mulai dari jalur darat, laut dan udara selalu ada perkembangan seperti berkembangnya satu sistem kereta api yang akan selalu diperbarui seiring dengan bertambahnya pengetahuan manusia sebagai sumber daya yang memproduksi barang tersebut sebagai contoh hasil pengembangan teknologi yang telah dirintis pasa masa revolusi industri. Berbagai macam alat-alat canggih saat ini merupakan bukti dari kemajuan teknologi yang telah dirintis sejak Revolusi Industri.
- Revolusi industri mengalami puncaknya saat ini dengan lahirnya teknologi digital yang berdampak masif terhadap hidup manusia di seluruh dunia. Revolusi industri terkini atau Revolusi Industri 4.0 mendorong sistem otomatisasi didalam semua proses aktivitas.

Komentar
Posting Komentar